Monday, 3 June 2013

menggunakan teknologi informasi sebagai media promosi kuliner khas bali dalam industri turisme, rek

Bismillaah

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman budaya dan kuliner sehingga banyak wisatawan, terutama mancanegara, yang tertarik untuk datang setiap tahunnya. Berbicara tentang kuliner, Indonesia memiliki berbagai macam kuliner khas mulai dari kari di Aceh, rendang di Sumatera Barat, soto di Jawa, sampai papeda di Papua. Semua itu memiliki cita rasa yang unik dan rasa yang beragam yang membuat wisatawan semakin tertarik untuk menjelajahi dan berwisata ke Indonesia. Bahkan, pada tahun 2011 lalu, CNN (Cable News Network), sebuah portal berita internasional, mengadakan survei daring kepada pembacanya perihal makanan paling enak di dunia. Hasilnya adalah rendang, masakan khas Sumatera Barat, menduduki posisi puncak.

Propinsi yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara pada saat ini adalah Bali, di mana propinsi ini juga mempunyai kuliner yang khas. Kuliner di Bali tidak hanya menjadi unik karena beragam bumbu yang dipakai, tetapi juga karena ia menjadi sarana meraih berkah.

Di Bali, masyarakat (Hindu-Bali) melakukan ritual yang ditujukan kepada Dewa-dewa mereka yang tidak bisa lepas dari makanan. Jika dicermati, tak ada ritual tanpa makanan, dan tak ada makanan tanpa ritual. Masyarakat tersebut percaya bahwa semua yang ada di alam adalah milik Tuhan, untuk Tuhan, manusia dan alam semesta. Rohaniawan Hindu, Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda, berkata, “Dalam konteks itu, makanan harus hadir sebagai persembahan sebelum dinikmati manusia. Tanpa persembahan, manusia dianggap mencuri milik Tuhan.”

Pada akhir abad ke-16, eksotika Bali dengan berbagai ritualnya yang semarak mulai diketahui penjelajah Barat. Kontak pertama terjadi saat tiga kapal Belanda di bawah komando Cornelis de Houtman tiba pada tahun 1597. Para pelaut Belanda itu terkesan dengan kemewahan Kerajaan Gelgel, tradisi Hindu yang hidup, dan keramahan penduduknya. “Mereka menyuguhkan air minum dan olahan daging babi yang lezat,” ditulis oleh Jacob Kackerlack yang ikut dalam pelayaran tersebut (A Vickers, 2012)
Dimulai dari kedatangan penjajah Belanda dan promosi lewat mulut ke mulut, mulai datanglah serbuan wisatawan asing yang tertarik dengan kuliner Bali. Mereka penasaran tidak hanya karena campuran bumbunya yang kompleks dan enak, tetapi juga karena adanya akulturasi antara kuliner dengan ritual Hindu-Bali yang diadakan setiap harinya.

Industri turisme, dalam hal ini turisme Bali, memerlukan pengenalan dan promosi yang aktif perihal kuliner Bali mengingat banyak hotel dan rumah makan di Bali yang menyajikan masakan Barat di meja-meja mereka. Berbicara pada sebuah seminar bertajuk “Hello Balinese Culinary” pada tanggal 26 Mei 2012, Ida Bagus Ngurah Wijaya, direktur dari Asosiasi Industri Turisme Indonesia perwakilan Bali menegaskan bahwa hanya kurang dari 20 persen dari 2,9 juta wisatawan asing yang menikmati kuliner Bali selama kunjungan mereka pada tahun 2011. Ia menegaskan bahwa asosiasi tidak bisa menyalahkan mereka jika hotel-hotel dan restoran memang lebih condong untuk menyajikan menu internasional. Mayoritas wisatawan sudah mengetahui dari awal bahwa kuliner Bali memiliki tradisi memasak yang sangat panjang dalam memasak sajian mereka yang mana sangat kaya dengan bumbu dan sarat dengan tradisi Hindu-Bali. Namun, tambahnya, banyak turis yang ingin mencoba kuliner Bali namun bingung di mana membelinya.

Pemerintah Indonesia bukannya tidak perhatian dengan masalah ini. Sejak tahun 2011, Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif telah meluncurkan situs www.indonesia.travel kepada dunia internasional. Situs tersebut memuat segala hal yang menarik tentang turisme Indonesia. Tak terkecuali Bali, ia mendapatkan porsi yang besar dalam situs tersebut, mengingat mayoritas wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia lebih memilih Bali daripada daerah-daerah lainnya.

Situs tersebut memperlihatkan bahwa selain wisata pantai dan budaya, Pemerintah Indonesia juga menaruh perhatian terhadap kuliner Bali. Artikel tentang kuliner Bali menempati satu seksi khusus yang membahas tentang destinasi di pulau Bali. Akan tetapi, sebagaimana paparan Ida Bagus Ngurah Wijaya di atas, di situs tersebut hanya tertulis tentang keunikan kuliner Bali tanpa mencantumkan di mana bisa mencicipinya atau bahkan mencobanya.

Peluang inilah yang ditangkap oleh masyarakat Bali dan Warga Negara Asing yang mencintai Bali. Janet De Neefe adalah salah satu Warga Negara Asing yang mencintai Bali. Sejak pertama kali datang pada tahun 1974 bersama orangtuanya dari Melbourne, Australia, Janet dihidangkan gado-gado, aneka sate dan nasi goreng berwarna merah muda. Sejak saat itu, cita rasa masakan tersebut menempel di ingatannya.

Dua puluh tujuh tahun setelah kejadian itu, Janet, sekarang bersuamikan orang Bali dan tinggal di Bali, aktif mempromosikan kuliner Bali lewat buku-buku yang ditulisnya antara lain Fragrant Rice: My Continuing Love Affair with Bali (2003) dan Bali: The Food of My Island Home. Dalam situs www.goodreads.com, situs di mana penggunanya membagikan info tentang buku menarik yang telah ia baca, buku Janet yang pertama mendapat review yang positif, rating 3,15 dari maksimal 5, dari 20 review yang masuk.

Selain Janet, Heinz von Holzen, pengarang dari lima buku masak yang terkenal (The Food of Bali, Bali Unveiled, The Secrets of Balinese Cuisine, Feast of Flavors from the Balinese Kitchen, Feast of Flavors from the Indonesian Kitchen, dan Street Food in Bali), mempromosikan kuliner Bali dengan membuat situs www.balifoods.com. Melalui situs tersebut, ia mempromosikan kelas masak kuliner Bali yang ia kelola. Tidak hanya itu, dalam situs tersebut ia juga menyertakan video perkenalan tentang bagaimana memasak kuliner Bali yang bisa diakses di https://vimeo.com/59132559.

Tidak hanya orang asing yang tinggal di Bali yang aktif mempromosikan kuliner Bali ke dunia internasional, masyarakat Bali juga tidak ketinggalan. Di antaranya adalah banyak kelas-kelas masak yang dikelola oleh warga lokal seperti Kelas Masak Paon Bali di Ubud (http://www.tripadvisor.com/Attraction_Review-g297701-d1823733-Reviews-Paon_Bali_Cooking_Class-Ubud_Bali.html) dan Kelas Masak Anika di Kuta (http://cookingclass.anikaguesthouse.com/)

Tidak hanya kelas masak, penulis juga berhasil menemukan dalam situs http://blog.baliwww.com, situs yang memuat segala informasi mengenai Bali, perihal apa dan di mana bisa menemukan kuliner Bali seperti Ayam Betutu dan Nasi Jinggo .

Kuliner Bali, walaupun bukan pemain utama dalam dunia kuliner di Asia Tenggara, memiliki keunikan khas yang terbukti mampu bertahan selama 6 abad lebih. Ini membuktikan bahwa kuliner Bali memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki kompetitornya. Kuliner Bali terbukti sebagai masakan yang memiliki keanekaragaman bumbu, mulai dari kemenyan sampai jeruk limau, dan juga digunakan sebagai simbol keagamaan/ritual dalam kehidupan masyarakat Hindu-Bali.

Sebagai sebuah daerah dengan kuliner yang khas, sudah semestinya Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Indonesia lebih aktif lagi dalam mempromosikan kuliner Bali melalui situs. Dengan menggunakan situs atau teknologi informasi lainnya, kuliner Bali tentu saja akan bisa bersaing atau bahkan mengungguli masakan Barat yang sekarang banyak disajikan di restoran-restoran di Bali. Setidaknya, harus diakui, penggunaan teknologi informasi tersebut harus membuat kuliner Bali menjadi raja di Bali dahulu.

Bali tidak hanya terkenal akan pantainya, keindahan alam berupa subak dan sawah yang bertingkat-tingkat, atraksi, dan kerajinan tangan, tetapi juga varietas yang luas dari kulinernya mulai dari Ayam Betutu sampai Babi Guling. Wisatawan asing memerlukan panduan lengkap tentang kuliner Bali sebelum mereka datang ke Bali. Ini tentu saja akan menjadi nilai tambah bagi industri pariwisata Bali dan tentunya akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Bali dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali.

sumber:
Cheung, Tim. Your pick: World's 50 most delicious foods. http://travel.cnn.com/explorations/eat/readers-
choice-worlds-50-most-delicious-foods-012321
Kompas, Koran Harian, Nomor 294 Tahun ke-48/2013. Jakarta
Promoting Balinese cuisine to int’l audience. http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/28/promoting-balinese-cuisine-int-l-audience.html
I Gede Sanat Kumara. Nasi Jinggo: Cheap Balinese Favorite. http://blog.baliwww.com/balinese-food/36758
I Gede Sanat Kumara. Ayam Betutu, At Least Once in Your Life Time. http://blog.baliwww.com/balinese-food/22792
Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment