Tuesday, 8 October 2013

menghajikan orang yang sudah meninggal, rek

Bismillaah
Apakah ada hadist mengenai menghajikan orang yang sudah meninggal, karena bukankah sudah terputus amal ibadah seseorang ketika ia sudah mati, bagaimana hukumnya?

JAWAB:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ
Dari Ibnu Abbas, radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya ibuku bernadzar untuk haji, dan dia tidak sempat menunaikan haji sampai dia meninggal. Apakah aku menghajikannya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya, hajikanlah dia. Bagaimana kalau seandainya ibumu mempunyai hutang? Bukankah engkau akan melunasinya? Lunasilah (hutang kepada) Allah, Allah lebih berhak untuk kita tunaikan hutangnya” (HR. Bukhari)

Ini adalah dalil yang jelas, yang menunjukkan disyariatkannya untuk menghajikan orang yang sudah meninggal. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ayub)

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment