Wednesday, 9 August 2017

plesiran ke paralayang di puncak, rek

Bismillaah

Plesiran itu salah satu cara bagi keluarga kecil kami untuk sejenak mengurangi kebosanan bermain-main di rumah...

Nah jadi, beberapa waktu lalu, mengingat kajian di Bogor lagi libur, kami sekeluarga memutuskan untuk liburan ke Puncak. Tujuan utamanya belum diputuskan sih. Pokoknya ke Puncak aja dulu. Jadilah kami berempat, seperti biasa, naik CB150R kesayangan menembus macetnya Tajur-Ciawi-Megamendung di hari Sabtu. Ya sebenarnya sih gak pengen kena macet ya soalnya sudah berangkat setengah 7 dari rumah. Di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk ke At Ta'awun aja deh. Duduk" di masjid sambil makan cilok

Sesampainya di At Ta'awun rupanya situasi sudah mulai rame. Sebagaimana keluarga kelas menengah pada umumnya (haiah), kami kurang suka kalo lagi plesiran trus tempatnya rame gitu. Jadi seperti gak privat. Hahaha. Lalu, gak sengaja istri saya ngeliat ke bukit dekat At Ta'awun. "Mas kita ke sana aja yuk!"

me, smelling the scent of new places, said
"Hayuk!"

meluncurlah kita ke Bukit Paralayang. Dari Jalan Raya Puncak, masih masuk ke dalam sekitar 200 meter. Di sampingnya ada jalur flying fox yang sudah gak kepake lagi. Pas parkir, agak aneh sih, tumben nih, kagak ada yang narik parkir. (ternyata ditarikin parkir pas pulangnya. Wakakakak) Berarti bakalan asik nih tempat. Setelah parkir, masih harus naik tangga lagi. Gak jauh kok. Tapi ya anak" balita tetep harus digendong lah ya

Sesampainya di atas, wewwww, pemandangannya breathtaking banget. Sudah banyak yang ngantre buat naik paralayang. Kita? Karena ke sana modal kere (wakakakak) ya kita duduk" aja lah ya sambil makan gorengan. Lagi di atas bukit di Puncak ini. Anginnya kuat banget. Dingiiinnn


karena ground paralayang yang landai ke arah jurang, Shafiyyah dan Hanzhalah gak boleh jalan ke mana". Harus digandeng terus. Kami stay di sana sampe jam 10an. Bukannya gimana". Soalnya udara sudah mulai panas dan memang sudah waktunya pulang. Biar bisa shalat Dhuhur di rumah...

Ahhh nikmat rasanya berada di Puncak. Bisa mengaplikasikan rasa syukur kepada Allah. Betapa kita sebagai manusia ini kecil sekali di alam yang begitu luas yah. Begitulah, suatu saat harus ke sini lagi...
Syukur nikmat memiliki lima rukun:

● Rukun Pertama: Mengakui nikmat dan menyaksikannya.
● Rukun Kedua: Mengakui yang memberi nikmat.
● Rukun Ketiga: Mengakui pihak yang menjadi sebab sampainya nikmat itu kepadamu.
● Rukun Keempat: Menggunakan nikmat tersebut pada hal-hal yang membuat ridha pemberi nikmat (Allah Azza wa Jalla).
● Rukun Kelima: Menceritakan nikmat tersebut jika aman dari fitnah dan kedengkian.
Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment